When The River Meets The Sea (Seri 4)

February 5, 2007 – 3:05 am

          Sepulang dari Restaurant When The River Meets The Sea (Restoran WTMS), Inayati, yang suka dipanggil Inayul oleh orang-orang akrab di sekitarnya itu, mulai mengalami demam karya sastra. Dia yang biasanya bermalas-malasan di kamar, hanya mengutak-utik handphone-nya, akhir-akhir ini rajin mengunjungi toko-toko buku di kotanya. Tidak ketinggalan mengunjungi taman-taman pustaka yang terkenal. Tidak peduli dia harus mengambil uang tabungannya. Walaupun sebenarnya dia sempat ketar-ketir karena tiap bulan harus mengambil tabungan tetapi sampai 6 bulan di kotanya itu dia belum menambah sepeser uangpun. Dia betul-betul down. Dia berpikir bagaimana dia dapat menambah penghasilan. Berkali-kali dia membuka lowongan pekerjaan di KR tetapi dia merasa itu bukan untuknya.

****

                             Pagi yang cerah di awal bulan Februari, dia pagi-pagi sekali segera menuju Taman Buku Seribu Mimpi. Di bawah payung langit yang kebiru-biruan berhiasan bias-biasa cahaya matahari dan kabut-kabut tipis seputih kapas dia tancap gas sekencang-kencangnya untuk segera merealisasikan mimpi-mimpinya. Dia sebenarnya sudah lama bosan tidur-tiduran di rumah, hanya saja dia bingung akan melakukan apa. Dia tidak menyangka bahwa seorang sarjana Psikologi juga bisa mengalami depresi, walaupun depresi ringan. Atau memang mentalnya yang betul-betul baru diuji oleh keadaan lingkungannya.

 

 

           Di dalam Taman Pustaka, dia tidak bosan-bosannya berputar-putar dari rak ke rak dari karya ke karya. Ketika sedang asyik membaca buku-buku karya Agatha Christie, dia mendengar sebuah handphone berbunyi dari tempat penitipan tas. Dia yakin itu suara handphone-nya. Lari sepatuya mengeluarkan bunyi yang mengejutkan para pembacanya di sekitarnya. Smua mata memandang bahasa tubuhnya, Inayul hanya cengar-cengir. Segera dibukanya handphonenya, benar ada sms. Dari siapa ya, gumamnya.

 

        Inbox > Dewandaru > Inay, gimana, sudah dapat berapa tulisan dalam semalam…..Kalau kamu malas datang ke WTMS, mendingan karya-karyamu dikirim melalui -email, soalnya melalui hp kan nggak muat, boros. Nanti dhuwitmu habis hanya buat beli pulsa. Kalau bagus entar aku bantu bagaimana menjualnya…………….(bersambung). SMS kok kayak cerita bersambung.

      Tak lama kemudian ada SMS lagi, Inbox > Dewandaru >Oh ya kirim ke sini, Dewandaru> pena club@hotmail.com , kamu sudah punya alamat -email belum?, buat saja, kan gratis……….Daripada tiap bulan harus beli pulsa, boros kan. Kalau nulis yang bagus, nek ora tak tekek kowe…!

      Inayati tidak bisa tinggal diam dia segera menjawabnya,"…reply > Nggih, den Baguse…………..>sent.

       Inayati masih begitu sibuk membuka novel-novel, antologi cerpen, dan lain sebagainya. Ketika membaca novel Rosamunde…….. Sleeping Tiger…….dia terbawa mimpi tokoh novelnya. Di situ diceritakan seorang gadis yang mencari ayah kandungnya, tetapi justru di sana menemukan kekasihnya. Betapa sok tahunya gadis itu seolah-olah telah memasuki rumah ayahnya, sehingga bertingkah bagaikan itu rumahnya sendiri. Di sana dia berlaku bagai tuan putri. Obsesi untuk menemukan ayah kandungnya itulah yang membuatnya putus hubungan dengan calon suaminya, karena gadis itu dianggap terlewat dalam batas mimpi, sehingga menganggap ayah kandung kepada orang yang belum pernah diketahuinya. Ternyata pemilik vila di tepi pantai itu adalah seorang lelaki dewasa yang sedikit beruban tetapi masih menunjukkan karisma ketampanan dan kemudaan. Akhirnya tokoh dalam novel itu jatuh cinta padanya dan meninggalkan hubungannya dengan pacarnya yang menjadi pengcara muda di kota lain…………Benar-benar Inayul terbawa cerita novel itu, dia membayangkan andai saja itu dirinya. Seorang kekasih yang begitu dewasa, memiliki vila pribadi yang mewah di tepi pantai, kapal pesiar yang ditambatkan di samping vila………andai saja dirinya. Mana ada di kota ini……..ada-ada saja. Baru saja melamun hp-nya berbunyi lagi.

        Inbox> Dewandaru> Titik-titik air itu pelan-pelan menggerus batu besar, akhirnya batu besar itu berlubang……………………..

        Dewandaru> Kesuksesan tidak diraih dengan sendirinya, setelah hamparan mimpi-mimpi. Air lautpun perlahan dan pasti akan menggerus bibir pantai, maka terjadi abrasi. Kamu makan pun harus dicerna perlahan-lahan. Segalanya perlu proses………………. 

         Lagi Dewandaru mengirim SMS lagi > kuharap kamu tahu apa yang kumaksud, bahwa untuk menjadi seorang Dewandaru seperti sekarang harus melalui suatu perjuangan panjang……………Aku tidak peduli siapa kamu, orang mana kamu, aku hanya ingin melihat kamu berhasil………..

         Dewandaru > untuk menjadi sukses butuh perjuangan, Yul, kamu jangan nglokro gitu…………….

         Dewandaru > Yul, kamu tidak usah terikat pada tata bahasa yang baku, ceritanya jadi tidak hidup, coba kamu cari yang belum pernah ditulis orang, lagian kamu jangan terlalu primordial, kata Jogja itu sudah sering dipakai dalam setiap cerita…………

          Dewandaru > cari yang lain dong………..masak sih nggak ada yang lain, jangan sok romantis kamu…………………… Lagian mesti ngambil ceritanya Yogya, Yogya terus, kota lainlah.

          Inayul tidak tahan menahan malu karena suara handphonenya telah mengundang perhatian dan cemberut banyak pengunjung Taman Pustaka itu. Dia segera meninggalkan Taman Pustaka tersebut dengan muka merah, karena dilihat banyak orang. Para cowoknya pada nyeletuk, "…..dari Teman tapi Mesra ya, kok malu…………"

******

        Berhari-hari Inayul melupakan pekerjaan lainnya agar tantangan dari Dewandaru itu berhasil dia menangkan. Dewandaru tidak bosan-bosan kirim SMS kepada Inayul, entah maksudnya apa, yang jelas SMS dengan bahasa sastra. Berkali-kali pula Inayul mengirim hasil karyanya melalui emailnya,tetapi jawabannya selalu gambar orang menggeleng-geleng kepala. Oleh karenanya dia sering diomeli oleh Ibunya.

        Inbox> Dewandaru > "Yul, bahasanya terlalu kasar, kurang sastrais, kalau membicarakan cinta itu harus dibuat lain, kalau yang kamu tulis itu sudah pernah ditulis orang…….Kalau nulis gitu sih anak-anak SD juga bisa."

          Dewandaru > Cinta itu tidak hanya antara seorang lelaki dan perempuan, tetapi juga antara ibu dan anak, antara teman dengan teman lainnya, antara Tuhan dan manusia, antara manusia dengan makhluk lainnya……………….

          Dewandaru > tema ceritamu kurang mengena, kadang-kadang tidak nyambung, cari tema dan judul yang lebih tepat dong…………

         Panas hati Inayul membaca SMS dari Dewandaru, dia tidak mau membalas, karena dia sadar bahwa dirinya memang harus terus mengasah kemampuannya.

         Waktunya telah sampai juga Inayul harus bertahan dengan ocehan Dewandaru. Dia kirimkan karyanya kepada Dewandaru untuk dinilaikan kepasa sang suhu. Dia berharap yang terakhir ini akan berhasil dan kalau belum berhasil dia akan berhenti menulis, akan meletakkan penanya dengan segera. Sepanjang sungai telah dia pakai untuk mencari inspirasi, kalau tidak berhasil dia akan gantung pena. Karyanya itu sengaja dia beri judul, "When The River Meets The Sea". Di restoran WTMS lah dia memulai jalannya sebagai penulis. Dari sanalah impiannya sebagai penulis melambung tinggi menembus langit.

        Genap seminggu sudah Inayul mengirimkan hasil tulisannya, tetapi Dewandaru justru terdiam membisu, dia tidak mau memberi komentar. Justru itulah yang Inayul takutkan, jangan-jangan Dewandaru marah dan tidak mau menjadi guidenya lagi dalam menulis. Berkali-kali Inayul mengirim SMS dan email tetapi tidak ada jawaban.

       Setelah tiga bulan kemudian, Inayul mendapat surat. Dia khawatir surat dari siapa, jangan-jangan dari bos yang menginginkan dia pulang kembali ke Jakarta. Tidak mungkinlah pesangon sudah dikirim kok. Setelah dibuka ternyata dari Imagination Life sebuah tabloid wanita di Semarang yang menyatakan bahwa Inayul harus mengambil honor tulisannya yang telah dimuat di tabloid tersebut. Yah, berkat "When The River Meets The Sea"  itulah Inayati berhasil mengukir namanya di sebuah tabloid. Tidak lupa dia mengirimkan pesan kepada Dewandaru ucapan terima kasih yang sedalam-dalamnya. Tetapi Dewandaru justru menghilang dari hidup Inayul bagaikan dalam mimpi. Bersamaan waktunya pula Inayul dipanggil untuk bergabung dengan sebuah LSM yang berjuang untuk Pemberdayaan Wanita atas rekomendasi dari Dewandarunya.  Bagaikan mimpi pula Dewandaru menghilang dan tahu-tahu dari teman-temannya bahwa dirinya sudah tinggal di Jepang. Entah kapan Inayul berjumpa dengan Dewandarunya, yah Dewa Penolongnya itu…………(Tamat) 

(Cerita di atas fiktif belaka, kalau ada nama dan tempat yang sama mohon dimaafkan)ekosuryanti@yahoo.co.id


No comments yet.

Sorry, comments for this entry are closed at this time.