When The River Meets The Sea (Seri 3)
February 2, 2007 – 1:48 am
Sudah setengah tahun Inayati tinggal di kampung halamannya, sepulang merantau dari ibukota. Cercaan bahwa dirinya orang bodoh tentu saja selalu dia terima. Apalagi tetangga-tetangganya yang selalu ceriwis. Inayul seorang perempuan berumur pulang merantau dari Jakarta tidak bawa lelaki. Setiap hari ada saja orang yang usil padanya. Ada yang bertanya mana mobilnya kan kerja di Jakarta, mana suaminya kan sudah kerja di Jakarta. Apalagi ada isu kalau dia akan dilangkahi adiknya yang sudah pingin menikah. Semakin banyak ucapan orang tentangnya. Ibunya juga terpengaruh juga dengan tetangga-tetangganya. Inayul dijodoh-jodohkan dengan siapa saja, tetapi Inayul tetap teguh pada pendirian pada mimpinya untuk bekerja lagi di kota kelahirannya. Dia yakin kalau dia akan mendapat pekerjaan. Walaupun kadang-kadang dia berputus asa hanya bisa tidur-tiduran di kamar. Dari Kompas, KR, Bernas rupanya belum memberikan peluang padanya untuk mempraktikkan ilmunya Psikologi Industri. Dia tahu sebagian besar pekerja bisa masuk ke dalam dunia kerja hanya dibawa oleh orang dalam. Setiap bulan uang seratus ribuan mesti dibelanjakan untuk membeli pulsa. Dia betul-betul tergila-gila dengan SMS.
Hari itu seperti biasanya dia bermalas-malasan di kamarnya, mau apa pekerjaan begitu sulitnya dia peroleh. Mungkin hanya keajaiban Tuhan yang akan mengangkatnya ke dunia pekerjaan yang dia impikan, menjadi psikolog di lingkungan perusahaan atau pekerjaan yang searah dengan ilmu yang dia peroleh. Mungkin dia sudah berputus asa untuk berdoa, sehingga dia pasrah, pasrah. Tiba-tiba terdengar suara hp, rupanya ada sms. Inbox> sang pujangga > Inay, besok Senin aku mau launching novel yang ke sekian kalinya di Restaurant When The River Meets The Sea, datang ya. Aku undang kamu gratis, ya say…….(dEwandaru)……..
Inayul agak terkejut juga, sesuatu yang tak terduga. Inayul mesti berpikir mau datang enggak, datang….enggak…datang….enggak. Baru bingung-bingungnya dia mempertimbangkan tawaran bagus dari sahabatnya itu, hp nya bunyi lagi. Apa lagi ya, gumamnya. Inbox > bos ganteng > Inay, gue dimarahi sama pacar gue, tau tuh bawaannya emosi melulu, nggak kayak lu, adem ayem saja, mendingan gue jadi pacar elu. Gimana lagi udah terlanjur, udah terlanjur gue habisin dia, udah berapa kali gue ajak ke……………..jawab ya In…………..
Bingung juga Inayul memikirkan jawaban dari dua orang sahabatnya itu yang dua-duanya cool habis. Baru bingung-bingungnya, Ibunya berteriak memanggilnya, "…..Yul, Ibu mau ke warung sebentar, tolong sayurnya diaduk, ditungguin biar kuahnya nggak luber di kompor, kasihan kompornya…". Inayul masih saja kuyu dari tempat tidur. Masih males mandi. "Cepetan, Yul….anak gadis loyo amat…..". Inayul hanya cemberut.
Tangannya mengaduk-aduk sayur yang ada di depannya, tetapi otaknya terus berputar-putar memikirkan jawaban. Dia lari sebentar ke kamar untuk mengambil hp kesayangannya. "Waduh kuahnya tumpah, pasti Ibu bakal marah-marah lagi, huuu………orang tua". Dia buru-buru mengambil lap untuk membersihkan tumpahan kuah yang ada di atas kompor. Hampir saja hp-nya jatuh ke sayur. Bisa berabe. Terus saja dia mengaduk sayur. Ternyata mengaduk sayur sambil menulis sms itu tidak bisa dilakukan bersama-sama. Dia agak jengkel juga karena Ibunya belum juga pulang. Mau diapakan ni sayur. Mendingan kompor diperkecil saja apinya. Lagi tangan-tangannya mengutak utik hp, write message> begini lho bang bos, ya sabar-sabar saja bos, atau dinikahi sekalian bos, gimana mau pisah, orang ceweknya sudah di……….sama bos. Entar kalau sudah nikah, dicekik saja……he…he…he>send to>bos ganteng.
Ketika Ibunya pulang, kembali dia ngomel, "Yul, gimana sayurnya sudah matang belum……….waduh, bisa kematangan sayurnya ini. Sudah dimatikan kompornya belum, huuu anak gadis nggak bisa masak." Mendengar Ibunya ngomel, Inayul keburu lari ke kamar sambil ngutak utik hp-nya, "Urus sendiri sayurnya tu, ……………".
Write message>Yo, Insya Allah, aku datang, tapi ajari aku nulis karya sastra juga ya, awas kucekik kamu kalau nggak mau………….>send>sang pujangga.
Hari itu Inayul menjadi semakin bersemangat karena menerima sms dari dua cowok ganteng. Dia jadi mau mandi, tadinya kan malas-malasan. Rupanya begitu besarnya arti sms nagi Inayul, Inayul yang terasing di kampungnya. Di kamar mandipun hp-nya dibawa, tidak ketinggalan di kamar. Pernah hampir memakai hp untuk menggosok badannya, soalnya dikira sabun. Mulutnya tidak berhenti bernyanyi, "Begitu indah untuk dilupakan…….begitu sedih untuk dikenang…setelah sekian lama aku menunggu…………..". Ibunya hanya menggeleng-gelengkan kepala."Yul, Yul,………..sudah Yul, nanti diomongin tetangga lho."
Inayul hanya menjawab,"Terserah Bu, mereka mau ngomongin Inayul apa to, Inayul terima, yang penting Inayul senang, biarin jika Bu, kalau Adik mau nikah duluan, tidak apa-apa Bu, saya sudah bahagia………." Ibunya hanya mbrebes mili mendengar Inayul bicara seperti itu.
Di kamar Inayul nyanyi-nyanyi lagi," I have a dream, a song to sing, to help me……………….."
Weeee, ada sms lagi, inbox>bos ganteng>"Bener Yul, orang sudah gue anuin beberapa kali kok, langsung nikah saja, tapi gimana kamu Yul, aku nggak nikah sama kamu jadinya, wah gimana, waduh, iya mestinya aku nikahi terus kucekik dia, he……he…he…….sontoloyo kamu Yul………….."
Lagi-lagi sms datang, sang pujangga,"Inayul semprul, teka tenan, nek ora, kowe sing tak tekek…………".
******
Pagi yang cerah, Senin yang dinantikan oleh Inayul datang. Pagi-pagi mandi bersih. Ibunya terheran-heran, tak biasanya Inayul mandi pagi-pagi sekali, biasanya menunggu matahari bersinar terang, mau ke mana ya.
"Yul, mau kemana, Ibu diantar ke pasar dulu ya, kalau beli di rumah sudah basi, tidak komplit sayurnya, lagian mahal. Ibu numpang sampai ke pasar saja, nanti pulangnya naik ojek"
"Iya, iya, Ndoro Putri………." Mendengar jawaban tersebut, Ibunya hanya tersenyum dan mencubit paha Inayul.
"Yul, Yul, anaknya Ibu yang paling pinter, ini, sukanya begitu…….." kata Ibunya.
"Sekarang ngalem, entar ngomel lagi…….." kata Inayul sambil memakai helm. Tak lama kemudian mereka segera ke pasar. Tiba-tba Inayul berhenti, "Bu, ambilkan hp saya di kamar, lupa…tolong ya Bu…..". Ibunya segera turun dari montor mengambil hp di dalam kamar Inayul. "Belum tua sudah pelupa…………..".
Setelah menurunkan Ibunya di pasar, Inayul segera menuju Restaurant When The River Meets The Sea. Banyak kendaraan yang sudah memenuhi parkir. Dia hanya berpikir seberapa hebatnya Dewandaru, sampai-sampai banyak orang yang ingin datang menghadiri launching novelnya. Ternyata dia tidak bohong, dia sedang duduk di depan di antara novelis muda lainnya. Rupanya yang hadir di sana adalah orang-orang yang memang mencintai dunia sastra. Pecinta-pecinta sastra tidak harus yang kuliah di sastra, karena semua sisi kehidupan dapat disastranisasikan.
Menurut Dewandaru, setiap sisi dari hidup dapat disastranisasikan, peristiwa Fisika bisa dipuitisasikan, diperindah tatanan bahasanya, diharmonisasikan bahasanya. Jadi bagi siapa saja yang ingin menulis karya sastra tidak ada larangan, dokter boleh menulis sastra, insinyur juga boleh menulis sastra, politikus juga boleh menulis sastra. Kemampuan itu harus diasah. Majunya industri penerbitan buku memberikan peluang bagi para penulis untuk menjual karyanya. Sebaiknya jangan pernah berputus asa untuk berkarya. Dewandaru ingin meyakinkan para peminat sastra bahwa sastra tidak hanya melambungkan angan-angan para pecintanya, tetapi bisa diuangkan, karena cinta juga membutuhkan uang. Inayul terpana dengan kata-kata Dewandaru yang membangkitkan semangatnya dan memberikan ide untuk selalu berkarya. Launching Buku Dewandaru yang berjudul, "Ekonomisasi karya sastra" dan novel yang berjudul "Teman Tapi Mesra" itu berlangsung kurang lebih setengah hari, karena setelah paparan dilanjutkan diskusi dan pelatihan menulis. Bagi Inayul, semua itu menyenangkan. Daripada mendengar tetangga-tetangganya berbicara tentang orang lain, mendingan di sini menambah pengetahuan dan pengalaman.
Ketika Inayul sedang melamun, Dewandaru mendekatinya sambil mencubit lengannya. Inayul hanya meringis. "Yul, bagimana, kamu mengerti kan apa yang kami bicarakan, semoga kamu tidak nglokro lagi…" Inayul hanya berpikir darimana Dewandaru tahu ya kalau dirinya sedang nglokro. Apa dia punya indera keenam. "Loh, kok kamu tahu kalau aku lagi tidak enak pikiran, apa kamu paranormal…". Dewandaru hanya tersenyum sambil meniup asap rokok di depan mulutnya, kemudian dia bicara "…………….sedikit-sedikit aku ngerti hal gituan, penulis biasanya tahu isi hati orang, dibenci juga tahu, dicurigai juga tahu, disenangi juga tahu". (Bersambung)
www.ekosuryanti.blogsome.com adalah website pribadi yang berisi tentang sastranisasi kehidupan, sosiokultural, seni dan sastra, dan bukan website porno)

Sorry, comments for this entry are closed at this time.