When The River Meets The Sea (PROLOGUE)

November 27, 2006 – 7:47 am

          Hujan turun mengguyur jalanan panjang Pantura. Inilah jalan yang dibuat oleh orang-orang Jawa atas perintah Daendels. Bus Ramayana kelas Ekonomi Non AC melaju kencang menembus pekatnya kabut malam. Di dalam bus semua kursi sudah penuh. Di sana, di tengah-tengah duduklah seorang gadis yang dari tadi hanya melihat kilatan-kilatan lampu kendaraan lain melalui kaca jendela bus. Seorang gadis berpostur Jawa, tidak besar juga tidak kecil, berambut hitam panjang diikat karet hitam, badannya terbungkus jacket. Inayati, ya itulah nama gadis manis itu. Tujuan perjalanannya Jogja. Inayati terus membenahi jaketnya. Saat itu pas bulan Desember tahun 2004, Inayati memutuskan untuk tidak lagi terlibat proyek yang diprakarsai Bos Muda Respati di Perusahaan Mentari Timur Biz yang terletak di Jakarta Selatan. Dia betul-betul kecewa karena Bos Respati lebih percaya kepada seorang perawan tua. Inayati kan jadi berpikiran jelek, ah pasti gadis itu pakai susuk sehingga bisa menebar pesona ke mana-mana. Mana ada saja yang dilakukan orang itu untuk menarik hati Bos yang usianya jauh dibawahnya. Yah, Inayati harus mau bersaing dengan seorang perawan tua yang selalu menebarkan pesona itu. Inayati memang hanya gadis Jawa yang suka mengalah, walau akhirnya tidak tau nantinya. Menang atau kalah, yang  pasti Inayati sudah terlanjur kecewa. Selalu saja dia dijuluki Jawa medok, kurus, kulit kopi susu. Dan itu hampir tiap hari ditonjol-tonjolkan, nukannya mencari kelebihan Inayul yang selalu rajin dan tekun bekerja. Dengan keraguan yang nyata, dia harus meninggalkan Respati yang ganteng kayak Thomas Jorghy dan Jakarta. Hanya saja matanya terus berkaca-kaca karena harus berpisah dengan teman-temannya yang juga baik. Padahal dia berusaha membenamkan emosi dalam pikirannya, sehingga tampak kerut-kerut kecil di dahinya yang masih muda pikirannya itu. Air mata tetap saja meleleh tanpa ada yang bisa menahannya. Dia berusaha menyembunyikan airmatanya dengan memandang ke luar mendekati arah jendela bus kota. Dia ingin menelepon keluarga di Jogja, cuman rupanya pulsanya habis. Bingung sekali rasanya. Dia juga belum pamit kepada Bos Respati, yang biarpun kelihatan menyebalkan, tetapi tetap bos juga yang harus dihormati.

         nayati alias Inayul semakin sulit memejamkan mata. Baterai HPnya berkali-kali nge-drop. Tueng…tueng…tueng. Pokoknya kalau lagi ngedrop pasti menggemparkan banyak orang. Hampir semua penumpang yang ada di bus Ramayana terbangun, kemudian memandanginya…bahkan ada yang ngomel, "Wah..Hape siapa tuh, ngganggu orang tidur saja, dimatiin kenapa……..". Yang duduk paling depan juga ikut ngomel, "Ho-o dimatiin kenape……..masih pada ngantuk, tau kagak. Besok gue pagi-pagi harus segera meeting di Jogja, tau…….". Kalau soal hak pribadi pasti banyak orang yang mau ngomel.

           Inayati hanya diam saja, ngapain mesti ribut. Dia selalu yakin akan kesombongan orang-orang Jakarta. Entah itu hanya prasangka atau memang fakta umum orang-orang ibukota sombong-sombong. Teringat dalam benaknya, betapa ketika pertama kali menginjakkan kakinya di Jakarta, orang-orang di sekitarnya menyombonginya dengan banyak hal, materi ataupun kulit tubuh. Gadis-gadis tidak tua, tidak muda semuanya selalu ingin menebarkan pesona di depan banyak cowok.

           Bis Ramayana melaju kencang menyusuri jalan pantura menembus kegelapan malam. Mata Inayati sulit sekali terpejam. Pikirannya kian menerawang jauh ke depan. Entah ke mana……Sementara itu tape recorder bus Ramayana mengalunkan lagu-lagu memory….Siapa suruh datang ke Jakarta….siapa suruh datang ke Jakarta……….

 

          Semua penumpang kaget ketika bus Ramayana berbalik arah. "Loh, Bang, kok berbalik arah", celetuk seorang penumpang. "ha…lah lha wong berbalik arah juga tidak dipungut bayaran kok, protes melulu, jalan di sana macet, so harus mbalik cari jalan lain yang melewati Secang," jawab kernet."Wah, nggak ada pilihan, nih. Ke depan macet, mau mbalik juga kelamaan, sama-sama lamanya…….." Dari tadi ulah penumpang aneh-aneh saja.

          Bus Ramayana berhenti sebentar di Magelang, tepatnya di sebuah rumah makan, gelap sekali sehingga susah dibaca nama dari restaurant itu. Rumah makan yang sangat lengkap dengan berbagai jenis makanan dan minuman. Percuma saja kalau tidak turun. Bau bensin menyengat hidung. Pengap sekali bus itu. Itu berarti dia dipaksa turun oleh keadaan, walaupun dia masih malas. Terpaksa harus menambah kocek untuk jajan. Dia pinginnya serba ngirit. Kebetulan di dekatnya ada seorang cowok manis. Dingin sekali gayanya. Rambutnya berombak…….Tangannya memegang buku kecil. Rupanya dia sedang menulis buku diary. Inayati mencari meja yang kosong, sehingga dia bisa menikmati kesendirian. Akan tetapi, semuanya sudah full.  "Mas, boleh kan aku duduk di sini?" tanya Inayati kepada cowok itu. Cowok itu hanya mengangguk sambil berdehem sambil terus mencoret-coret bukunya. Cepat sekali nulisnya. Inayati pelan-pelan duduk. Cowok itu masih saja meneruskan membuat coretan-coretan pada lembar demi kertas halaman kertas kecil Apa mungkin bisa terbaca ya. Sesekali tangannya di lempar-lemparkan, agaknya pegel juga nulis.

         Lama juga Inayati di situ, sampai hidangan datang,"Maaf ya Mbak, saya lagi mencatat peristiwa-peristiwa penting yang mungkin bisa saya kembangkan untuk menjadi sebuah novel, atau naskah drama, kenalkan nama saya Dewandaru Setiadi, saya mau ke Jogja, Mbaknya mau ke Jogja juga kan?" kata cowok itu tiba-tiba.

         Agak terperangah juga Inayati tiba-tiba cowok dingin itu berbicara. Suaranya ngebas tapi lembut, "ee….nama saya Inayati alias Inayul, saya mau ke Jogja."

         "Ayo….kita buruan makan, nanti Ramayana keburu pergi, kita ditinggal," kata cowok itu lagi.

         "Mbak Ina ini ke Jogja dalam rangka apa?" tanyanya.

        "Saya asli Jogja, saya pingin pulang saja, kalau Masnya, Oh ya panggil saja saya Inay atau Ina, nggak usah pakai mbak-mbakan, sok resmi saja."

         "Baiklah, tapi susah je Mbak. Saya kebetulan dari Jakarta, habis launching novel di UNJ. Saya ke Jogja mau pulang, kebetulan di Jogja sudah ditunggu teman-teman dari Pustaka Pelajar Production."

         "Jadi Masnya seorang penulis novel, wah saya diajari dong saya,"  rajuk Ina bak sudah kenal akrab.

         Cowok gondrong bermuka manis itu ternyata bernama Dewandaru Setiadi itu seorang novelis, senang sekali Inayati bertemu dengannya. Novelis yang dia tau dari karya-karyanya itu ada di depannya. Mau ngobrol lebih lama, tetapi awak Ramayana sudah cerewet dari tadi.

        "Oi, mau pada pulang ke Jawa kagak, Mbak…. Mas jangan pacaran di situ, cepetan"

         "Oh, kernet sialan,……..Udah ya, kita jumpa lagi nanti di Jogja, Aku punya banyak acara di sini, In, ini kamu tak kasih kartu namaku, kalau butuh aku hubungi aku saja…" Aneh sekali novelis terkenal seperti dia mau memberikan kartu nama kepada Inayul, pikir Inayul lagi.

          "Buruan, pada ditinggal, nggak bisa pulang entar-entar, situ-situ pada lelet amat!" teriak kernet Ramayana.

           Semua penumpang segera bergegas menuju bus Ramayana AB1305MB itu. Masih banyak minuman yang tergeletak di atas meja. Piring-piring yang masih penuh isinya, karena belum sempat termakan oleh mereka. Soalnya lebih asyik merokok dan mengobrol daripada makan. Rasanya makan itu sudah malas.

             Inayati yang sejak sore tadi murung menjadi agak berbunga-bunga. Dia punya teman seorang novelis. Memang Inayati termasuk pecandu novel, novel apa saja, bahkan juga pecandu komik, dari Kahlil Gibran, Nawal el Sadawi, hingga Agatha Christie, dan masih banyak novel lagi. Dia sendiri merasa tidak berbakat untuk menulis novel. E, hari ini dia bertemu salah seorang novelis muda dari Jogja, baru saja naik daun, Dewandaru Setiadi. Mimpi apa semalam ya dirinya.

          Langit sudah mulai bersih dari titik-titik air hujan. Kegelapan malam pun sudah mulai mengurang. Sayup-sayup terdengar kokok ayam jantan, pertanda haripun akan segera berganti pagi. Inayati sengaja turun di pasar Jati, dekat Makam Wahidin Sudirohusodo. Dari sana, nanti dia bisa naik ojek.

           "Bang, turun perempatan saja, itu dekat Pasar……."

          Biarpun Inayati sudah bilang berhenti, bus tetap berjalan hingga jembatan Jombor. Inayati hanya menggerutu.

            "Jangan cemberut, gitu, Neng, kan dimurahin.." celetuk kernet Ramayana.

            Inayati hanya nyengir, biarpun begitu, masih sempat juga Inayati mengucapkan terimakasih. Hari masih sepi, hanya satu, dua orang lewat, mungkin para pedagang. Mobil yang berlalu masih beberapa. Takut juga dia berjalan sendirian. Kebetulan ada nenek-nenek tua yang sedang berjalan menggendong bakul dibantu cucunya. Ternyata mereka akan menjual bunga. Inayati pelan-pelan mengikuti mereka. Tangannya menenteng tas besar. Sesekali dia mengencangkan jaketnya, karena hari memang masih dingin. Sampai di pasarpun, belum banyak orang. Dia duduk menunggu di dekat nenek tua itu mangkal. Nenek itu sedang mengatur dagangannya, bunga mawar yang masih segar, bunga melati, bunga kenanga, bunga kantil, sama bunga yang berwarna ungu yang belum diketahui namanya. Sedangkan tangan-tangan mungil cucunya sibuk menyiapkan daun-daun pisang. Dia membayangkan andaikan bisa seperti anak itu, yang masih polos, indah sekali hidup ini.

          Tak lama kemudian beberapa tukang ojek mulai muncul. Barulah dia bisa pulang sampai ke rumah. Dia agak terkejut juga ketika melihat kanan kiri jalan sudah banyak real estate, lapangan golf dan hotel besar.

(bersambung)