When The River Meets The Sea (2)
November 30, 2006 – 8:16 amSetiba di rumah Inayati langsung tidur. Badannya terasa lemas, mau cerita macam-macam kepada keluarganya masih capek dan tadi semalaman tidak bisa tidur di dalam bus. Dia mencoba untuk memejamkan mata, tetapi sulit. Dia berpikir, bagaimana dia nanti bila tinggal di sini, adakah pekerjaan yang pantas untuknya, apakah gajinya sebesar di Mentari Timur Biz, dan masih banyak ganjalan hati lagi. Inayati belum berani jujur tentang keinginannya untuk tidak di Jakarta lagi, dia hanya bilang kalau lagi libur. Begitu ingat kalau HPnya ngedrop baterainya, dia melompat dari kasur, segara ambil charge. Karena HP itu ngedropnya lama, maka bunyinya masih kurang enak juga.
Tangan-tangan coklat bersih menjentik-jentikkan muka sebuah kartu nama. Dia amat-amati baris-baris huruf yang ada di atas kertas kotak itu. Dewandaru Setiadi, alamatnya Jalan AM Sangaji km 56. Itu sih alamat yang mudah dicari. Naik colt Pemuda juga bisa.
Setelah menunggu agak lama, panas sudah HPnya, Dipijit-pijitnya keybord HP Samsung kesukaannya.
"Bos Respati, sorry Inayul tidak mau kembali ke Jakarta Selatan. Bila Inayul bikin salah sama Bos, mohon maaf yang sebesar-besarnya…"Message Sent.
Lama sekali dia harus menunggu jawaban dari bosnya yang seganteng Thomas Jorghy kalau pagi. Kalau siang seperti Om, Om yang selalu jalan-jalan sama cewek-cewek di Blok M. Kalau malam kayak siapa ya…Kalau lagi suntuk pikirannya, Inayul paling malas sembahyang, tetapi dia selalu didesak oleh hatinya agar tetap selalu sholat. Shubuh jam setengah enam, mana ada. Seringkali ketika Inayul masih di Jakarta suka terlambat sholatnya, dengan alasan nanggung pekerjaan yang berjibun di kantornya. Apalagi kalau sholat Maghrib, karena biasanya dia saat-saat seperti itu lagi menikmati kemacetan lalu lintas. Everywhere there was traffict jam.
Biarpun Inayul sedang sholat, tetapi pikirannya masih saja di tempat lain. Sebentar-bentar Mentari Timur Biz, sebentar-bentar wajah jalan Malioboro yang selalu tebar pesona. Dua rokaat tiga menit cukuplah. Mulutnya bertasbih tetapi pikirannya ke mana tidak tahu. Tasbihnya terhenti begitu mendengar HPnya bunyi.
Menu>message>Inbox>Bos Respati>……Dasar kamu anak gelo’, edan, pulang tidak pamitan. Lihat nih, banyak tugas numpuk di meja elu. Kunyuk elu, gue kagak bisa maafin lu, awas lu……….
Reply>Terserah, Bos, gue udah muak lihat tingkah teman dekat Bos, yang rada-rada gitu deh……….jujur nih, Bos.>Sent
Sambil menunggu jawaban dari bosnya dia menyetel VCD player, biasa kalau tidak lagunya Ebiet G. Ade, KLA Project, atau Letto……..Kembali lagi HPnya bunyi.
Menu>message>inbox>Bos Respati>……Gue sebenarnya ‘nggak mau kehilanganmu kunyuk, aku sedih, so aku tumpahin rasa sedihku dengan kemarahanku melalui SMS, gue mana tahan dengar suara lu, yang emelas gitu, bikin laki-laki kasihan sama elu, cinte sih kagak, cuman kasihan, cewek Jogja, cewek Jogja, Oke, alamat elu masih yang dulu, to, besok aku kirim surat referensi, ditambah pesangon, biar buat biaya hidup elu di Jogja. Tunggu satu sampai dua tahun lagi, sebentar lagi Mentari Timur Biz akan buka cabang di kampung elu, salam sayang selalu dari Bosmu yang paling ganteng untuk Inayul, kunyuk, he…he…he"
Reply>Makasih ya bOs yang kalau pagi seperti Thomas Jorghy, kalau siang, embuh, iye alamat ku masih seperti yang dulu, jangan lupa kalau lebaran kirim THR, dasar Bos aneh, ……bener nih nggak marah nih. Kok malah mau dikirimi gaji pesangon……Baik bener, deh. Kasihan deh gue>Sent
Message>Inbox>Bos Respati>Paling lambat satu atau dua minggu lah, setelah perhitungan, dipotong pajak buat gue dong. Gue sebenarnya bosan sama lu, jengkel, pingin menjambak rambutmu itu, pingin nabok kamu, pingin mukul kamu, aku sebel sama kamu. Aku betul-betul masih marah. Sudah ya, selamat menikmati hidup di kampung…….Inayul…Inayul……………
Inayul sebenarnya sedih juga menyaksikan kesedihan Bosnya yang ditampilkan dalam kemarahannya. Hatinya merasa iba juga pada Bosnya. Tetapi nasi telah menjadi bubur, dia sudah terlanjur tidak mau ke Jakarta lagi. Walaupun kadang-kadang dia berpikir untuk berubah. Inayul masih capek habis dalam perjalanan. Dia merebahkan badannya di kasur saudaranya sambil mendengarkan VCD player. Tahu-tahu dia sudah tertidur pulas. Sedangkan SMS dari tadi berdatangan, entah dari siapa. Ibunya tidak berani membuka-buka HP anaknya. Inayul tidur pulas entah mimpi apa dia sekarang ini…………..
(bersambung)
